“Tidak boleh sejengkal tanah air Republik Indonesia ini hilang begitu saja didiamkan dibantai abrasi. Mari bersama menanam dan merawat mangrove agar sejengkal tanah air Indonesia terus terjaga bahkan bertambah,” jelasnya.
Ia menambahkan, menjaga lingkungan merupakan salah satu bentuk meneruskan perjuangan para pahlawan.
“Kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga tentang bagaimana meneruskan perjuangan dengan menjaga tanah, laut, hutan dan lingkungan yang menjadi bagian dari kehidupan kita,” katanya.
Dikatakannya, kawasan mangrove Pematang Kuala sendiri memiliki cerita panjang. Wilayah yang dahulu merupakan lautan perlahan berubah menjadi daratan seiring upaya masyarakat menanam dan merawat mangrove.
“Tanaman mangrove tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kawasan pesisir dari abrasi sekaligus mempertahankan ekosistem lingkungan,” katanya
Sementara itu, Ketua kelompok Nelayan setemopat, Herman yang diwakili Sekretarisnya, Nikson, mengapresiasi kegiatan tersebut.
Kata dia, pelaksanaan upacara 17 Agustus di kawasan mangrove memberikan pesan penting mengenai hubungan antara kemerdekaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
“Upacara 17 Agustus di Hutan Mangrove ini sangat menarik dan penuh semangat, serta menambahkan nilai kemerdekaan kita untuk pentingnya menjaga hutan mangrove agar tidak terjadi abrasi,” pungkasnya.
Seusai upacara, kegiatan dilanjutkan dengan beragam perlombaan, seperti teka-teki mangrove, makan kerupuk, hunting sampah hingga joget kemerdekaan.












