Ia menjelaskan, balita tersebut mengalami profuse diare disertai muntah dan diare, kemudian mengalami demam dan kejang.
Bersadasarkan hasil kajian, kejang berkaitan dengan kekurangan elektrolit akibat muntah dan diare. Sedangkan demam berkaitan dengan kondisi dehidrasi atau kekurangan cairan.
“Kesimpulannya tidak ada kaitannya pemberian vaksin dengan kejadian ini. Gejalanya muncul terlalu cepat dan tidak sesuai dengan perkembangan KIPI yang umumnya dialami setelah imunisasi MR,” jelasnya.
Ia menyebutkan, berdasarkan keterangan ahli, demam sebagai salah satu reaksi setelah imunisasi MR umumnya muncul pada hari kelima hingga ketujuh setelah vaksinasi.
Sementara pada kasus tersebut, muntah dan diare muncul hanya dalam hitungan jam setelah imunisasi, kemudian berkembang menjadi demam dan kejang.
Ia menegaskan, investigasi dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan penyebab kejadian berdasarkan kajian medis serta keterangan dari lembaga yang berwenang.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Payalombang, Krisnawati Situmorang STr Keb MKM, mengimbau masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang belum terbukti kebenarannya terkait imunisasi.
Ia meminta para orang tua tetap membawa anak ke posyandu untuk mendapatkan imunisasi sesuai jadwal.
“Jangan terpengaruh atau terprovokasi dengan berita-berita hoaks yang beredar. Kami dari pihak Puskesmas tetap berpegangan kepada hasil Komnas KIPI, yaitu tidak ada hubungan dengan vaksin,” ujarnya.
Menurut Krisnawati, imunisasi merupakan bagian penting dalam mencegah berbagai penyakit menular dan mengantisipasi potensi wabah di kemudian hari.












