Hasil pemindaian yang mereka interpretasikan menunjukkan adanya garis-garis lurus, sudut siku-siku serta ruang atau koridor di bawah permukaan.
Penelitian sebelumnya oleh tim tersebut juga melaporkan bahwa sampel tanah dari bagian dalam formasi mengandung material organik lebih tinggi dibandingkan sampel dari luar.
Tim kini melakukan pengujian lebih lanjut untuk mengetahui asal material tersebut dan apakah terdapat sisa material organik yang berkaitan dengan struktur kayu.
Dalam proses pengeboran terbaru, Jones mengatakan mata bor sempat mencapai lapisan keras yang tidak diduga sebelumnya.
Mereka berharap analisis laboratorium dapat menentukan apakah material tersebut merupakan kayu yang telah membatu atau mengalami mineralisasi tinggi.
Jika terbukti merupakan struktur buatan manusia, temuan itu tentu akan menjadi bagian penting dalam perdebatan panjang mengenai situs Durupınar.
Namun, belum ada bukti independen yang dipublikasikan yang mengonfirmasi bahwa struktur tersebut adalah Bahtera Nabi Nuh.
Sejumlah penelitian geologi sebelumnya justru menyimpulkan formasi tersebut dapat dijelaskan sebagai bentukan alam.
Kajian geologi yang pernah dilakukan menyebut adanya penjelasan berupa struktur batuan, lipatan geologi, erosi dan aliran material yang membentuk kontur menyerupai kapal.
Karena itu, klaim bahwa Durupınar merupakan Bahtera Nabi Nuh masih menjadi hipotesis yang sedang diuji.
Namun, Jones sendiri meyakini hipotesis tersebut merupakan bahtera Nabi Nuh.
“Saya yakin ini adalah Bahtera Nuh,” katanya, sebagaimana dikutip dalam laporan mengenai penelitian tersebut. (**)












