Senior Protection Officer UNHCR Indonesia, Emily Bojovic, menegaskan bahwa para pengungsi membutuhkan lebih dari sekadar bantuan kemanusiaan.
“Bagi para pengungsi, menunggu selama bertahun-tahun berarti terus kehilangan kesempatan. Namun ketika diberikan kesempatan untuk memanfaatkan keterampilan, melanjutkan pendidikan, menjadi sukarelawan, dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat, semua pihak akan diuntungkan,” katanya.
UNHCR menyoroti peran penting organisasi yang dipimpin oleh pengungsi dalam mendukung komunitas mereka. Organisasi tersebut menyediakan berbagai program, mulai dari pendidikan informal, pelatihan keterampilan, dukungan psikososial, hingga kegiatan olahraga yang membantu memperkuat kohesi sosial.
Peringatan Hari Pengungsi Sedunia tahun ini juga bertepatan dengan 75 tahun Konvensi Pengungsi 1951, yang menjadi landasan perlindungan internasional bagi para pengungsi.
Dalam kesempatan tersebut, UNHCR mengajak pemerintah, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, institusi pendidikan, organisasi keagamaan, media, dan masyarakat luas untuk memperkuat solidaritas demi mewujudkan lingkungan yang aman dan inklusif bagi para pengungsi.
“Ketika diberikan rasa aman, empati, dan kesempatan, para pengungsi dapat berkontribusi, membangun hubungan, dan memperkuat komunitas di sekitar mereka,” ujar Emily.
Sebagai bagian dari peringatan Hari Pengungsi Sedunia 2026, UNHCR bersama sejumlah organisasi masyarakat sipil menggelar acara publik bertema “One Goal: Safety for All” di Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.












