Sementara itu, narasumber lainnya, Sahlan Hasibuan menambahkan, markusip memiliki tujuan sosial yang tinggi dalam menjaga moral generasi muda.
Namun, seiring perkembangan zaman, tradisi ini mulai hilang karena perubahan struktur rumah serta kemajuan teknologi komunikasi.
Baca juga: Dari Tokoh Kehormatan Menjadi Objek Kritik
Baca juga: Menteri Kebudayaan Hadiri Tradisi Jamu Laut di Sergai: Indonesia Mega Diversity
Meski begitu, Sahlan berharap nilai-nilai dalam tradisi ini tetap bisa dilestarikan.
“Salah satu cara adalah dengan mengadakan lomba markusip secara rutin,” katanya.
Salsa berharap, agar warisan budaya markusip tidak hanya dikenang, tetapi juga diaplikasikan dan dilestarikan oleh masyarakat, khususnya di Desa Mondang.
“Semoga kegiatan ini menjadi langkah awal agar tradisi markusip bisa kembali dikenal dan dijalankan, misalnya melalui perlombaan atau kegiatan budaya lainnya secara berkelanjutan,” harapnya.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II dan Pemerintah Desa Mondang atas dukungan penuh yang telah diberikan.
“Terima kasih atas bantuan pendanaan, tempat, dan kerjasama yang luar biasa. Semoga ke depan kolaborasi ini dapat terus terjalin untuk menjaga kekayaan budaya Padang Lawas,” tutupnya. (**)












