Objek tersebut akan tetap berada pada jarak aman sekitar 240 juta kilometer dari planet kita, atau dua kali jarak antara Bumi dan Matahari.
“Dengan mempelajari cahaya yang dipantulkan komet ini, kita dapat memahami apakah unsur-unsur seperti air, karbon, dan silikat juga umum di sistem bintang lain,” kata Jason Wright, profesor astronomi dari Penn State University, seperti dikutip dari News Week (31/10/2025).
Para ilmuwan menyebut kemunculan 3I/ATLAS sebagai “momen emas” untuk meneliti bagaimana sistem bintang di luar tata surya terbentuk.
Komet ini diperkirakan akan kembali terlihat dari Belahan Bumi Utara pada Desember 2025, ketika mulai menampakkan cahayanya di langit pagi sebelum perlahan menghilang ke kedalaman ruang antar bintang. (*)












