Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen merespons langsung Fico lewat surat resmi yang berisi jaminan bahwa transisi energi akan dilaksanakan secara bertahap dan koordinatif.
Komisi juga membuka opsi bantuan negara (state aid) serta penggunaan dana Uni Eropa untuk melindungi rumah tangga dan industri dari dampak ekonomi yang ditimbulkan.
Namun, surat tersebut tidak memuat pengecualian khusus ataupun kompensasi finansial langsung seperti yang diminta Fico. Hal ini memicu ketidakpuasan di dalam pemerintahan Slovakia sendiri.
“Jaminan Komisi itu tidak memadai. Beberapa bahkan menyebutnya tidak ada apa-apanya,” kata Fico. Ia juga memerintahkan perwakilan Slovakia di Brussels untuk meminta penundaan pemungutan suara atas sanksi baru terhadap Rusia.
Langkah Fico memperpanjang perundingan antarnegara anggota dan memperkuat kesan adanya perpecahan dalam sikap luar negeri Uni Eropa. Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri, Kaja Kallas, secara terbuka menyatakan kekecewaannya.
“Jika sensitivitas Anda sudah ditangani, seharusnya tidak ada lagi halangan,” tegas Kallas, seraya menyinggung bahwa veto Slovakia bisa jadi dipengaruhi oleh tekanan politik domestik di Bratislava.
Meski demikian, Kallas menyatakan optimisme bahwa kesepakatan akhir masih bisa tercapai sebelum akhir pekan. “Kita perlu menavigasi 27 opini publik dan kepentingan nasional yang berbeda. Itu memang bagian dari proses.”
Sikap Fico yang dinilai lunak terhadap Rusia juga berpotensi memperburuk relasi transatlantik. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya memperingatkan akan mengenakan “tarif berat” terhadap Rusia dan mitranya jika tidak ada kemajuan signifikan menuju perdamaian dalam 50 hari ke depan.












