“Saat saya melihat sepeda motor suami di dekat pintu masuk PT Agrinas, saya langsung mendekat. Di dekat motor itu saya melihat suami sudah tergeletak. Saat itu saya yakin dia sudah meninggal dunia,” tuturnya.
Desi mengaku melihat sejumlah tanda kekerasan pada tubuh korban. Wajah Luis disebut tampak membiru, lidah menjulur keluar, serta terdapat luka di beberapa bagian wajah.
Keluarga korban menyebut terdapat enam orang yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut. Di antaranya seorang anggota TNI aktif berpangkat Sersan Mayor berinisial BD dan seorang purnawirawan TNI berinisial B.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari saksi di lokasi kejadian, Desi mengatakan suaminya diduga sempat mengalami kekerasan pada bagian leher sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.
“Dari keterangan saksi, suami saya sempat dicekik hingga lemas. Setelah itu ada tindakan kekerasan lagi pada bagian leher. Saat kondisi suami saya sudah tidak berdaya, mereka mengira suami saya hanya berpura-pura,” katanya.
Sementara itu, ARMI dan KontraS Sumut menilai kasus tersebut tidak dapat dipandang sebagai penganiayaan biasa.
Kepala Operasional KontraS Sumut, Adinda Zahra Novianti, mengatakan pihaknya bersama ARMI telah melakukan investigasi lapangan pada 20 hingga 22 Juni 2026.
Berdasarkan hasil investigasi tersebut, pihaknya menyebut terdapat indikasi kuat terjadinya pembunuhan berencana yang dilakukan secara bersama-sama.
Ia mengungkapkan, sebelum ditemukan meninggal dunia, Luis bersama tiga rekannya, yakni Jhoni, Doni Romadan dan Sutomi, diduga diadang oleh sejumlah pelaku saat melintasi area perkebunan APN usai bekerja membersihkan lahan sawit milik warga.












