OPINI

Airmata Anak Bangsa Menetes di Meja Presiden: Sebuah Dialektika Keadilan dan Meritokrasi

357
×

Airmata Anak Bangsa Menetes di Meja Presiden: Sebuah Dialektika Keadilan dan Meritokrasi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi airmata anak bangsa menetes di meja Presiden
Ilustrasi airmata anak bangsa menetes di meja Presiden

Lihatlah, Bapak, airmata seorang ibu yang memilukan. Airmata itu bukan disebabkan oleh fluktuasi harga komoditas, melainkan karena pilu melihat anaknya yang telah menempuh pendidikan tinggi, namun kesulitan menemukan pekerjaan.

Anaknya yang telah memiliki ijazah dan harapan, namun terbentur oleh realitas “koneksi.” Airmata itu bukan sekadar manifestasi kesedihan personal, melainkan wujud frustrasi yang mendalam atas akses keadilan yang begitu elusif.

Dengarlah, Bapak, narasi para bapak-bapak yang punggungnya membungkuk oleh kerasnya hidup. Mereka bercerita tentang persaingan yang tidak setara, di mana usaha keras mereka seolah tak bermakna di hadapan mereka yang memiliki jalan pintas.

Mereka tidak memohon belas kasihan. Mereka hanya membutuhkan keadilan. Keadilan untuk mendapatkan kesempatan yang setara, keadilan untuk hidup layak, dan keadilan untuk menggapai mimpi di negeri sendiri tanpa harus menjadi bagian dari lingkaran privilese.

Maka, airmata anak bangsa yang menetes di meja itu adalah sebuah teguran keras, sebuah sinyal darurat yang tak boleh diabaikan. Ini adalah sebuah pengingat bahwa di balik megahnya pembangunan infrastruktur, terdapat jutaan harapan yang terancam padam akibat disfungsi sistem.

Kami, rakyatmu, hanya bisa menatapmu dengan ekspektasi yang tulus. Terbangkanlah garuda setinggi-tingginya, Bapak Presiden, agar ia dapat membawa keadilan sosial yang sesungguhnya ke setiap sudut negeri.

Jangan biarkan sayapnya patah oleh beban koneksi, jangan biarkan airmata kami terus membasahi meja harapan ini. Wujudkanlah Indonesia yang adil, di mana kompetensi dihargai, bukan sekadar koneksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *