Jakarta (Freedoom.id)
Pasca Perang 12 hari antara Iran dan Israel menghamparkan landscape geopolitik dunia yang sesungguhnya.
Kini, kekuatan Blok Barat yang dipimpin Amerika dan sekutunya NATO, meyakini sepenuhnya bahwa untuk mempertahankan dominasi global, Iran harus mereka tundukkan.
Baik dengan secara patuh, takluk dibawah aturan main mereka, melalui pergantian rezim dan menjadi bagian mereka, maupun dengan secara paksa melalui perang total hingga salah satu dari mereka, Iran atau Barat yang kalah.
Namun, pilihan untuk menaklukkan Iran via pergantian rezim yang coba di lakukan melalui operasi yang disebut Israel sebagai Rizing Lion telah gagal total dalam perang 12 hari. Alih-alih mereka sukses menggulingkan rezim pemerintahan Iran dan mendudukkan rezim boneka mereka, melalui operasi gerakan massa, ratusan inteligen Mossad yang ditugaskan untuk itu, justru berakhir di tiang gantungan. Soliditas masyarakat Iran bukannya melemah, sebaliknya malah semakin kokoh dalam barisan mendukung pemerintah.
Kini, upaya Barat untuk mengalahkan Iran, dilakukan melalui strategi ‘pengepungan’ dengan mendorong negara-negara di Kaukasus Utara seperti Azerbaijan, Georgia, dan Armenia untuk menjadi bagian dari kekuatan NATO dalam mengisolasi Iran, memutus mata rantai Iran, Rusia, dan China di kawasan itu.
Namun, nampaknya meskipun Brussel, Israel dan Amerika, sukses mempengaruhi pemimpin Azebaijan, Georgia dan Armenia, tapi tidak demikian halnya dengan rakyatnya.
Gereja apostolik Armenia yang memiliki pengaruh kuat dan mengakar pada masyarakat Armenia, bahkan hingga ke Gereja -gereja di Georgia menarik dukungan mereka terhadap Presiden Armenia, Vahagn Kachaturyan yang mereka nilai makin akrab dengan Brussel, menjalankan agenda-agenda politik ekonomi yang bertentangan dengan tradisi Gereja.












