Keputusan korban yang kini memilih menghilang tanpa kabar setelah menerima kompensasi justru menimbulkan kesan bahwa upaya yang sempat diperjuangkan berakhir tanpa kejelasan.
Seorang pendamping menyayangkan tindakan korban yang lupa pada perjuangan tim dan tidak beretika
“Kami tidak mempermasalahkan kompensasi, Sebelumnya, korban dan istrinya datang menjumpai tim pendamping memohon pertolongan. Namun sekarang menghilang. Dia lupa cara beretika,” katanya
Diberitakan sebelumnya, Burjek mengaku menjadi korban dugaan penganiayaan oleh sekitar 15 oknum keamanan kebun pada Kamis (30/4/2026) sekira pukul 03.00 WIB, di areal perkebunan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Ia sempat diamankan karena dituduh mencuri buah kelapa sawit, sebelum kemudian mengaku mengalami pemukulan secara bersama-sama.
“Sekitar 15 orang yang memukuli saya,” ungkapnya.
Akibat kejadian tersebut, Burjek mengalami luka pada tangan, jidat, serta sejumlah bagian tubuh lainnya. Ia sempat menjalani perawatan medis hingga dirujuk ke rumah sakit di Kota Medan.
Istri korban, Vivi, sebelumnya juga mengecam dugaan tindakan kekerasan tersebut dan berharap kasus diproses sesuai hukum yang berlaku.
Belakangan diketahui korban merupakan residivis kasus pencurian dan kasus lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, upaya konfirmasi kepada korban belum membuahkan hasil. (*)












