OPINI

59 Tahun KAHMI: Menyongsong Indonesia Maju atau Terjebak dalam Siklus Kekuasaan?

564
×

59 Tahun KAHMI: Menyongsong Indonesia Maju atau Terjebak dalam Siklus Kekuasaan?

Sebarkan artikel ini
Penulis, M Arief Hidayatullah

Konsolidasi bukan hanya soal memperkuat jaringan kader dan alumni, tetapi juga soal mengembangkan kualitas individu dengan landasan nilai-nilai insan cita, kemanusiaan, keadilan sosial, dan keberpihakan kepada mereka yang terpinggirkan.

Pemberdayaan ini harus melampaui sekadar penempatan posisi-posisi strategis dalam organisasi, tetapi lebih pada bagaimana setiap alumni KAHMI dapat membawa prinsip-prinsip luhur tersebut dalam tindakan nyata di lapangan.

Jika konsolidasi ini mampu menghasilkan alumni yang tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga responsif terhadap realitas sosial yang kompleks, maka KAHMI dapat benar-benar menjadi agen perubahan yang membawa dampak nyata bagi Indonesia.

Konsolidasi KAHMI, jika dijalankan dengan tepat, harus mampu menyatukan kekuatan internal yang solid dengan visi perubahan yang lebih inklusif.

Jika konsolidasi ini hanya berakhir pada upaya penguatan organisasi tanpa tindakan nyata, maka tema “Indonesia Maju” yang diusung akan tetap menjadi jargon kosong belaka.

KAHMI harus kembali ke khittah-nya sebagai katalisator perubahan, bukan sekadar subjek dalam permainan kekuasaan yang tidak membawa perubahan yang berarti.

Tantangannya tetap ada apakah KAHMI dapat keluar dari zona nyaman dan kembali menjadi kekuatan yang menggugah perubahan signifikan di Indonesia? Ataukah KAHMI akan terperangkap dalam siklus kekuasaan yang tidak pernah memberi ruang untuk perubahan substansial?

Jawaban atas pertanyaan ini tidak akan ditemukan dalam diskursus yang bersifat teoritis semata, melainkan dalam langkah nyata yang dapat diambil oleh setiap alumni, dalam kapasitas individu dan kolektif, untuk mendorong perubahan sosial yang sejati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *