OPINI

80 Tahun, 8 Presiden, dan Presiden ke-8: Sebuah Tesis Tentang Kedaulatan, Kemandirian, dan Perubahan Paradigma

451
×

80 Tahun, 8 Presiden, dan Presiden ke-8: Sebuah Tesis Tentang Kedaulatan, Kemandirian, dan Perubahan Paradigma

Sebarkan artikel ini
Penulis, Mohamad Arif Hidayatulloh

Sebagai akibatnya, jaringan kekuasaan dan ekonomi yang sering kali tak transparan menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika politik Indonesia.

Korupsi besar, yang melibatkan aktor domestik maupun internasional, bukan sekadar kelalaian individu, tetapi sebuah refleksi dari sistem yang menyuburkan ketergantungan negara terhadap aktor-aktor yang lebih kuat.

Dalam skema ini, penguasaan kekayaan alam, struktur birokrasi yang tidak efisien, dan bahkan politik luar negeri Indonesia, terperangkap dalam siklus yang membentuk ketergantungan jangka panjang pada negara-negara besar dan kekuatan-kekuatan internasional lainnya.

Namun, dengan keberanian Presiden ke-8 untuk membuka tabir ketidakberesan yang telah lama tersembunyi dalam ruang gelap kekuasaan, Indonesia menunjukkan tekad untuk tidak lagi terjebak dalam pusaran korupsi.

Keberanian ini, meskipun disertai dengan resiko politik yang tinggi, menjadi tonggak penting dalam membangun kultur politik baru yang berbasis pada nilai-nilai kejujuran, transparansi, dan keadilan yang lebih substansial.

Pembongkaran korupsi besar yang selama ini menjadi kekuatan dominan dalam mengekang kemajuan Indonesia adalah langkah monumental menuju negara yang lebih berdaulat dan merdeka dari budaya kekuasaan yang menindas.

Kedaulatan, dalam pengertian klasik, sering dipahami sebagai kekuatan suatu negara untuk mengatur urusan domestiknya tanpa campur tangan eksternal. Namun, dalam dunia yang semakin terhubung dan terglobalisasi, kedaulatan harus didefinisikan kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *