OPINI

Beda Kaderisasi Muslim Nasionalis & Transnasionalis

105
×

Beda Kaderisasi Muslim Nasionalis & Transnasionalis

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

Perbedaan ini berpotensi menimbulkan ketegangan ketika masing-masing hasil “tempa” sejarah dipaksakan sebagai kebenaran tunggal.

Aktivis nasionalis cenderung melihat pendekatan transnasional sebagai ahistoris dan berpotensi mengganggu harmoni sosial.

Sebaliknya, aktivis transnasional sering memandang pendekatan nasionalis sebagai bentuk kompromi yang menjauh dari idealitas perjuangan Islam.

Realitas sosial Indonesia menunjukkan kecenderungan kuat pada penerimaan negara-bangsa.

Berbagai survei, seperti dari Pew Research Center dan SMRC, menunjukkan bahwa mayoritas Muslim Indonesia mendukung pendekatan keislaman yang kontekstual dalam kerangka negara.

Hal ini menegaskan kuatnya akar sosial model nasionalis dalam kehidupan keagamaan di Indonesia.

Secara normatif, Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13 menegaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal.

Ayat ini memberikan landasan bahwa perbedaan sejarah, konteks, dan cara pandang merupakan bagian dari ketetapan Ilahi, bukan penyimpangan yang harus diseragamkan.

Strategi bernegara merupakan wilayah *furu’iyah*. Karena itu, semestinya Muslim transnasional menghargai ijtihad Muslim nasionalis, bukan justru mendekonstruksinya.

Dengan demikian, perbedaan antara kedua arus ini seharusnya dipahami sebagai produk sejarah yang berbeda, bukan sebagai alasan untuk saling menegasikan.

Islam mengajarkan kesatuan dalam prinsip, namun memberi ruang bagi keragaman dalam ekspresi sosial dan politik.

Ketika proses “tempa” ini dipahami secara jernih, ruang dialog akan terbuka, dan ketegangan dapat dikelola secara lebih konstruktif. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *