Menurut Berly, Soemitronomics menekankan pentingnya peran negara dalam mentransformasi struktur ekonomi melalui tiga pilar utama, yakni Industrialisasi nasional, Keseimbangan pembangunan pusat-daerah dan Perluasan akses kredit rakyat
Konsep ini sejalan dengan pandangan Presiden Prabowo yang, sebagaimana dilaporkan The Economist, melihat kemenangannya dalam Pilpres sebagai mandat untuk mewujudkan gagasan ekonomi ayahnya.
Berly menjelaskan bahwa Menteri Keuangan yang baru, Purbaya Yudhi Sadewa, harus mampu menyeimbangkan alokasi anggaran negara (APBN) dalam tiga horizon waktu:
Jangka pendek: Program padat karya dan bantuan sosial untuk meningkatkan daya beli rakyat.
Jangka menengah: Pembangunan infrastruktur dan percepatan industrialisasi.
Jangka panjang: Program makan bergizi gratis dan perluasan akses pendidikan melalui sekolah rakyat.
Selain itu, ia juga mengkritisi pemotongan transfer ke daerah dalam APBN 2025, yang menurutnya dapat mengganggu ekonomi lokal dan mendorong pemerintah daerah untuk menaikkan pajak atau retribusi guna menutup kekurangan pendapatan.
Menutup paparannya, Berly menyoroti pentingnya memperkuat sinergi antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Ia menyebut, pengalaman Purbaya di sektor keuangan menjadi aset penting untuk mendorong inklusi keuangan, khususnya dalam memaksimalkan potensi kredit rakyat sebagaimana direkomendasikan dalam disertasi Prof. Soemitro.
Hingga kini, rasio kredit terhadap PDB Indonesia masih tertinggal dibanding negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura.












