Medan (Freedoom.id)
Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi di berbagai kabupaten/kota di Sumatera Utara (Sumut) adalah sinyal keras tentang rapuhnya kesiapan negara dalam mengelola krisis.
Hal ini dikatakan Mohamad Arif Hidayatulloh, Kepala Bidang Ekonomi dan Politik (Ekopol) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bekasi 2014-2015 yang berdomisili di Sumut, Rabu (3/12/2025).
Menurutnya, pada saat publik masih berduka akibat berbagai musibah bencana alam, negara tidak boleh menambah potensi bencana baru yang bersumber dari kegagalan tata kelola energi.
“Antrian panjang di sejumlah SPBU bukan sekedar persoalan teknis distribusi, melainkan cermin dari tata kelola yang timpang dan minim antisipasi,” ujarnya
Dijelaskan, dalam perspektif sosiologi, kelangkaan energi bukan hanya soal pasokan, tetapi tentang relasi antara negara dan warga.
Ketika antrian mengular dari pagi hingga malam, masyarakat dipaksa memasuki arena persaingan yang tidak perlu.
Situasi ini melahirkan tekanan psikologis kolektif, ketegangan horizontal, seperti percekcokan di antrean, penimbunan oleh oknum, hingga ketidakadilan akses, serta keretakan kepercayaan, ketika rakyat meragukan kemampuan negara menjamin kebutuhan paling dasar kehidupan modern.
“Antrian panjang itu adalah potret kecil dari kerentanan sosial. Ia mengingatkan bahwa dalam masyarakat yang kompleks, ketidakstabilan pada sektor energi mampu menjalar menjadi krisis kepercayaan, kecemasan publik, bahkan potensi konflik sosial,” jelasnya
Ia melanjutkan, dari sudut ekonomi, kelangkaan BBM adalah gejala dari distorsi pasokan dan lemahnya mitigasi risiko. Ketika pasokan terganggu atau harga tidak stabil, dampaknya berlipat.












