Seperti biaya logistik meningkat, memicu kenaikan harga barang, pelaku sektor informal merugi, karena waktu produktif habis untuk mengantre, efisiensi ekonomi menurun, membuat masyarakat kehilangan penghasilan secara tidak langsung, dan secara makro, inflasi berpotensi terdorong naik karena energi adalah input utama seluruh rantai produksi.
“Kelangkaan BBM tidak hanya memukul dompet masyarakat, melainkan juga merusak ritme ekonomi lokal. Kondisi seperti ini memperlihatkan bahwa negara belum memiliki sistem distribusi yang tangguh, terutama dalam situasi darurat,” lanjutnya
Kemudia, dalam konteks bencana alam yang tengah dialami sejumlah daerah, negara seharusnya hadir untuk memulihkan kondisi sosial dan menjamin stabilitas ekonomi.
“Bukan justru menciptakan turbulensi baru. Duka masyarakat atas bencana alam seharusnya tidak ditambah dengan krisis energi yang memperburuk keadaan,” paparnya
Ia menilai, krisis BBM hari-hari terakhir adalah pengingat bahwa pembangunan fisik tidak cukup tanpa ketahanan sistemik.
“Sebuah bangsa hanya kuat sejauh ia mampu memastikan layanan dasar berjalan tanpa gangguan, terutama pada saat warganya berjuang melampaui keadaan sulit,” tegasnya
Lebih jauh, setiap kelangkaan BBM membawa pelajaran bahwa stabilitas negara tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi pada kemampuan menjaga hal-hal mendasar yang menyangga kehidupan rakyat.
“Krisis energi, sekecil apa pun, adalah penanda bahwa kita masih harus memperkuat tata kelola, transparansi distribusi, dan sistem mitigasi agar potensi bencana ekososial tidak berubah menjadi kenyataan,” pungkasnya. (**)












