OPINI

Catatan Perjalanan Kaderisasi HMI dari Bekasi hingga Tebingtinggi

540
×

Catatan Perjalanan Kaderisasi HMI dari Bekasi hingga Tebingtinggi

Sebarkan artikel ini
Keterangan: foto pertama saat mengisi materi wajib HMI di Komisariat Lafran Pane Kota Tebingtinggi Sumut tahun 2026 dan foto kedua saat memperkenalkan HMI kepada mahasiswa UPB tahun 2017.

Setahun kemudian, Michael yang merupakan kakak tingkat saya di kampus akhirnya diwisuda. Sebelum fokus memasuki dunia kerja, ia kembali menyampaikan pesan yang kurang lebih sama dengan Bang Basyir agar saya tetap konsisten berjuang dan tidak meninggalkan jalan pengabdian yang telah dipilih.

Pesan itu kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan saya.

Perlahan tetapi pasti, saya mulai menunjukkan diri sebagai kader HMI yang kritis dan independen. Sikap tersebut saya tunjukkan di tengah organisasi-organisasi mahasiswa yang secara kelembagaan telah lebih dahulu terbentuk di kampus.

Saya kemudian masuk ke ranah politik kampus dengan memimpin sejumlah lembaga kemahasiswaan, termasuk Komisi Pemilihan Umum Internal dan menjadi pengurus di BEM.

Namun, pada akhirnya saya memilih mengundurkan diri karena merasa tidak lagi sejalan dengan arah perjuangan organisasi.

Saat itu, saya melihat BEM terlalu berorientasi pada kegiatan seremonial dan kompromistis. Bagi saya, lembaga mahasiswa seharusnya memiliki keberanian menjalankan fungsi kritis dan memperjuangkan kepentingan mahasiswa dan publik.

Keputusan tersebut semakin meneguhkan keyakinan saya bahwa jalan pengabdian yang saya pilih tidak boleh hanya berhenti pada identitas organisasi. Ia harus diwujudkan melalui keberanian untuk membangun sesuatu yang nyata.

Karena itu, saya kembali kepada niat awal mendirikan Komisariat HMI di kampus.
Satu per satu teman terdekat saya ajak. Tidak sedikit yang harus melalui proses brainstorming dan diskusi panjang sebelum akhirnya bersedia mengenal dan mengikuti proses perkaderan HMI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *