Kami berjalan dengan semangat idealisme, kemandirian, dan intelektualitas, meskipun menjadi kelompok minoritas di tengah organisasi-organisasi Cipayung lainnya yang telah lebih dahulu memiliki struktur dan basis massa di kampus.
Semangat itu tidak pernah padam.
Beberapa kali upaya kaderisasi yang sedang kami bangun sempat dikerdilkan oleh berbagai pihak. Namun, berbagai hambatan tersebut tidak menghentikan langkah kami.
Setelah berhasil mengkader beberapa orang, kami mulai fokus melakukan konsolidasi untuk memperkuat eksistensi HMI di kampus dengan dbimbing oleh senior HMI Bekasi seperti Bang Adib Putra, Bang Ii Ruswandi dan Bang Rino. Ketiganya sering mengunjungi dan memotivasi kami sambil diskusi di sudut-sudut Kabupaten Bekasi.
Pada masa itu, metode rekrutmen perkaderan yang saya pilih adalah pendekatan kualitatif, bukan kuantitatif.
Saya tidak sedang mengejar jumlah kader sebanyak-banyaknya. Saya mencari rekan seperjuangan yang tangguh, memiliki prinsip, mampu berpikir kritis, dan siap berjalan dalam situasi yang tidak selalu mudah.
Karena itu, tidak sedikit mahasiswa Islam yang ingin bergabung dengan HMI justru saya arahkan untuk mempertimbangkan organisasi lain. Sebagian dari mereka kemudian bergabung dengan organisasi lain dan bahkan berkembang menjadi tokoh atau pentolan di sana.
Bagi saya, kaderisasi bukan tentang mengumpulkan sebanyak-banyaknya orang, melainkan tentang menemukan manusia yang benar-benar siap tumbuh dan menghidupkan nilai-nilai perjuangan.
Langkah yang saya ambil itu disaksikan oleh banyak teman di kampus. Jika suatu saat diperlukan konfirmasi, mereka adalah saksi dari proses tersebut.












