Situasi tersebut terasa tidak asing bagi saya.
Saya kembali berhadapan dengan keadaan yang hampir sama sebuah ruang yang membutuhkan orang-orang yang bersedia memulai dari bawah, membangun kembali semangat kaderisasi, dan menghidupkan organisasi dari kondisi yang belum sepenuhnya siap.
Di tengah kondisi tersebut, saya mencoba berdiskusi dengan beberapa alumni HMI yang masih memiliki kepedulian.
Kami kemudian memberangkatkan calon kader untuk mengikuti LK I ke beberapa cabang HMI di Sumatera Utara.
Dari proses itu, perlahan kami membangun kembali ruang kaderisasi. Hingga akhirnya, Basic Training pertama sekira tahun 2020 dapat dilaksanakan di Kota Tebingtinggi oleh HMI Cabang Medan, meskipun saat itu kota ini bahkan belum memiliki Komisariat.
Jika di Kabupaten Bekasi saya belajar bagaimana memulai, maka di Tebingtinggi saya belajar bagaimana memulai kembali.
Pengalaman sebelumnya membuat saya semakin memahami bahwa kaderisasi bukan pekerjaan instan. Ia membutuhkan kesabaran, konsistensi, keberanian, dan kesediaan untuk bekerja meskipun tidak selalu mendapatkan pengakuan.
Sekali lagi, semuanya dimulai dari ruang yang kecil, dari orang-orang yang sedikit, dan dari keyakinan bahwa sebuah organisasi tidak akan tumbuh jika tidak ada yang bersedia memulainya.
Tidak banyak yang melihat proses tersebut. Tidak pula banyak yang bersuara ketika semuanya masih dimulai dari nol.
Namun, waktu kemudian menunjukkan bahwa kerja-kerja kecil yang dilakukan dengan konsisten dapat meninggalkan jejak yang panjang.












