Pengasingan dan Kembali ke Aceh
Setelah hubungannya memburuk dengan pemerintah Orde Lama, Hasan Tiro tidak kembali ke Indonesia. Ia menjadi konsultan bisnis sukses di New York, terlibat dalam berbagai pemerintahan di Amerika, Eropa, Timur Tengah, dan Asia Selatan. Namun, keinginannya untuk kembali ke tanah Aceh tak pernah padam.
Tahun 1976, meninggalkan keluarga dan kehidupannya di New York, Hasan Tiro kembali ke Aceh dan pada 4 Desember 1976, mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Pidie. Ia kemudian diburu oleh aparat dan pada 1979 kembali ke Amerika Serikat, memimpin perlawanan dari luar negeri.
Pelatihan Militer dan Perlawanan Berkepanjangan
Pada akhir 1980-an, Hasan Tiro bersama Malik Mahmud pergi ke Libya untuk mendapatkan dukungan dari Muammar Khadafi. Libya menyetujui pelatihan militer untuk pemuda Aceh. Sebanyak 1.000 orang dilatih di Kamp Tanzura bersama pejuang dari negara-negara tertindas lainnya.
Memasuki 1990-an, Aceh ditetapkan sebagai Daerah Operasi Militer (DOM). Banyak warga mengungsi ke Malaysia dan Thailand. Setelah rezim Soeharto tumbang, semangat GAM kembali membara. Namun, reformasi tidak membawa keadilan bagi Aceh. Perundingan damai pun terus gagal, salah satunya perundingan Tokyo tahun 2003 yang ditolak GAM karena hanya menawarkan otonomi khusus.
Puncak Konflik dan Tsunami Aceh
Pemerintah menetapkan status Darurat Militer di Aceh pada Mei 2003 di bawah Presiden Megawati dan Menko Polhukam Susilo Bambang Yudhoyono. Konflik semakin berdarah-darah hingga akhirnya tsunami 2004 menjadi momentum penting yang membuka jalan damai.












