OPINI

Mengenang Kisah Sang Revolusioner Aceh: Hasan Tiro

295
×

Mengenang Kisah Sang Revolusioner Aceh: Hasan Tiro

Sebarkan artikel ini
Agung Adhi Laksana (Penulis)
Agung Adhi Laksana (Penulis)

Perdamaian dan Akhir Perjuangan

Pada 15 Agustus 2005, pemerintah Indonesia dan GAM menandatangani Perjanjian Damai di Helsinki, Finlandia. GAM menyerahkan 840 senjata dan menarik 3.000 pasukannya. Pemerintah pusat memberikan keistimewaan bagi Aceh.

Tahun 2008, Hasan Tiro pulang ke Aceh. Ribuan rakyat menyambutnya sebagai Wali Nanggroe. Dalam pesan terakhirnya, ia berpesan:

“Biaya perang mahal, dan biaya memelihara perdamaian juga mahal. Maka peliharalah perdamaian untuk kesejahteraan kita semua.”

Pada 3 Juni 2010, Hasan Tiro wafat di Banda Aceh dalam usia 85 tahun. Ia dimakamkan di samping makam leluhurnya, Teungku Cik di Tiro. Di hari wafatnya, pemerintah Indonesia secara resmi memulihkan kembali status kewarganegaraannya.

Penutup

Hasan Tiro adalah potret kompleks seorang revolusioner: nasionalis, kritikus tajam negara, pemimpin gerakan separatis, dan pada akhirnya pelopor perdamaian. Sejarah hidupnya adalah cermin dinamika hubungan antara daerah dan pusat, antara harapan rakyat dan realitas kekuasaan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *