OPINI

Mengenang Kisah Sang Revolusioner Aceh: Hasan Tiro

265
×

Mengenang Kisah Sang Revolusioner Aceh: Hasan Tiro

Sebarkan artikel ini
Agung Adhi Laksana (Penulis)
Agung Adhi Laksana (Penulis)

Medan (Freedoom.id)

 

Masa Muda dan Semangat Anti-Kolonial

Hasan Tiro, seorang remaja kritis asal Aceh, mengenyam pendidikan di Normal Islam Institute Bireuen, yang didirikan oleh T.M. Daud Beureueh. Suatu ketika, dua kelompok pelajar terlibat dalam perdebatan satu kelompok menanam pohon kapas atas perintah tentara Jepang, sementara kelompok Hasan Tiro menolak karena menganggap itu simbol penjajahan. Akibat penolakan itu, kelompoknya kalah dan Hasan Tiro pun dikirim oleh Daud Beureueh ke Yogyakarta untuk melanjutkan studi.

Di Yogyakarta, Hasan Tiro dibimbing langsung oleh Wakil Perdana Menteri Indonesia, Sjarifuddin Prawiranegara (tokoh Masyumi), dan dijadikan staf khusus. Pada tahun 1950-an, Sjarifuddin merekomendasikan Hasan Tiro untuk melanjutkan pendidikan di Columbia University, New York. Ia juga bekerja sebagai staf perutusan tetap Indonesia di PBB. Saat itu, ia dikenal sebagai nasionalis dan republiken yang anti-kolonial.

Perjuangan Awal: Nasionalisme dan Perlawanan

Hasan Tiro sempat memimpin organisasi Badan Pemuda Indonesia, yang dibentuk pada fase awal kemerdekaan untuk melawan agresi militer Belanda. Ia juga menjadi motor penggerak pelajar Islam di Aceh, membangun semangat nasionalisme yang kuat di kalangan pemuda.

Tahun 1948, saat hampir seluruh wilayah Indonesia dikuasai kembali oleh Belanda (kecuali Aceh dan Bali), Soekarno mengunjungi Aceh untuk meminta dukungan moral dan finansial. Rakyat Aceh, di bawah pimpinan T.M. Daud Beureueh, memberikan sumbangan besar: sebanyak M$ 20.000.000 dan pada tahun 1949 sebesar $500.000 (Straits Dollar), demi kelangsungan Republik Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *