Peristiwa ini menggarisbawahi kegagalan DPR untuk hadir dan berdialog secara tulus dengan masyarakat.
Analisis menunjukkan bahwa demonstrasi yang terjadi adalah akibat dari gagalnya saluran komunikasi politik konvensional yang seharusnya menjadi tugas DPR.
Kritik ini menuntut DPR untuk tidak hanya merumuskan undang-undang, tetapi juga membangun kembali jembatan kepercayaan dengan konstituennya.
Brutalitas Aparat dan Krisis Akuntabilitas Polri
Jika DPR dikritik karena ketidakpekaannya, maka Polri mendapatkan kritik tajam atas tindakan represif yang dilakukan.
Berbagai kelompok masyarakat sipil, termasuk Koalisi Masyarakat Sipil, ICW, dan YLBHI, telah berulang kali mengecam penanganan demonstrasi yang brutal, sebuah tindakan yang secara ironis mencederai hak konstitusional warga untuk menyampaikan pendapat.
Puncak dari kegagalan ini adalah insiden tragis yang menewaskan Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, yang terlindas kendaraan taktis Brimob.
Insiden yang terekam dalam video viral ini menjadi simbol nyata dari kegagalan negara dalam melindungi warganya dan memicu tuntutan yang lebih besar, yakni reformasi total terhadap institusi kepolisian.
Tuntutan ini tidak berlebihan. Kelompok masyarakat sipil dan mahasiswa menuntut agar Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mundur atau dicopot, dengan alasan bahwa ia telah gagal mengubah “watak represif dan militeristik” Polri.
Mereka juga mendesak agar penyelidikan yang transparan dan independen dilakukan, bukan sekadar mekanisme etik internal yang sering kali dianggap tidak memadai.












